Angkot

Biasanya kalau berangkat kerja aku bareng papaku, kalau pulangnya kadang bareng adek kadang naik angkot. Seringnya sih naik angkot. Ritual naik angkot, menurutku bukan hanya sekedar salah satu cara atau media untuk sampai ditempat tujuan namun lebih luas dari itu.

Banyak hal yang bisa kita perhatikan dan dapatkan saat didalam angkot, apalagi angkot yang penuh penumpang dengan beragam latar belakang. Ada pelajar, orang tua, pekerja, mahasiswa bahkan orang stress atau orang gila! Berbagai macam orang bisa ada dalam angkot.

Menurut pengamatanku sekarang ini banyak sopir angkot yang ‘stress’ karena makin sepinya penumpang, jalanan rusak hingga kemacetan. Mereka seperti sangat berambisi untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya penumpang dengan mengesampingkan banyak hal penting, salah satu diantaranya keselamatan para penumpang. Beberapa sopir, mau masih muda ataupun bapak-bapak sering mengemudikan angkotnya dengan kecepatan tinggi agar cepat dapat penumpang atau mengejar rekan sesama sopir angkot agar penumpang menaikki angkotnya. Atau demi menghindari kemacetan mereka rela melawan arus, atau menghabiskan badan jalan supaya terbebas dari antrian kendaraan.

Seperti pengalamanku kemarin sore saat menaiki angkot jurusan Sadang Serang-Caringin, dia ngebut hampir sepanjang jalan karena ingin mengejar temannya dan juga dia marah karena ada penumpang yang ingin naik angkot jurusan Sadang Serang-Caringin  hanya tidak ingin menaiki angkot dia (milih-milih angkot). Dia nyetirnya kayak orang kesetanan. Saat itu didalam angkot hanya ada dua penumpang, aku sama cewek seumur aku juga. Si cewek udah ngomel tapi si sopir angkot tak bergeming!Kalau aku sendiri, diem aja sih walaupun dalam hati ngedumel.

Turun dari angkot Sadang Serang -Caringin aku masih harus naik satu kali angkot lagi, yaitu jurusan Cijerah-Sederhana. Ketika aku naik aku langsung memilih duduk di bangku untuk 7 orang. Di bangku lima orang sudah ditempati 3 orang. Dua orang posisinya agak diujung bangku duduknya sedangkan satu lagi, seorang kakek duduk dekat pintu masuk, jadi ditengah bangku mereka ada celah untuk satu penumpang. Beberapa saat kemudian ada penumpang yang naik, biarpun ada penumpang lagi, si kakek tidak mau sedikitpun bergeser, padahal dia juga turunnya masih lama.

Memang sih sekarang ini banyak orang yang tidak mau duduk diujung dekat jendela belakang, inginnya duduk dekat pintu biar gampang turun alasannya (aku juga kadang melakukan hal yang sama). Padahal kalau dipikir lagi, kita banyak merugikan orang lain jika kita tidak mau mengalah kepada penumpang yang baru naik. Orang jadi susah untuk masuk angkot, angkot akan terlihat penuh padahal diujungnya kosong yang membuat sopir suka jadi marah, kitapun akan jadi sasaran kemarahan orang lain karena perbuatan kita.  Tapi meskipun banyak kerugian yang tidak kita sadari, masih banyak saja yang berbuat seperti itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s