Cheese Cake From Richeese Factory

Familiar dengan wafer keju berbentuk panjang dan bungkusnya warna kuning gak? Buat kamu yang masih sekolah atau remaja pasti merasa familiar. Kalau yang udah dewasa kayak aku, kayaknya gak banyak yang tau… Sewaktu masih dikantor yang dulu aku lumayan sering jajan wafer keju ini sebelum makan siang di kantin kantor sambil menunggu pesanan makanan datang. Bentuknya kayak gini, nih…

Richeese Wafer

 

Gimana, setelah melihat gambarnya pasti tau!

Produk diatas merupakan salah satu produk dari Kaldu Sari Nabati Bandung. Wafer ini sempet ‘nge hits’ di kantin kantor dan selalu soldout! Bukan berarti semua karyawan di kantor pada doyan tapi karena di belakang kantor kita ada Taman Kanak-kanak yang setelah pulang sekolah muridnya pasti jajan di kantin.

Aku sendiri sempet menjadi penggandrung wafer ini selama beberapa bulan karena rasanya yang enak & kejunya sangat terasa. Namun setelah lama ada aku jadi berhenti soalnya rasanya kok udah gak seenak waktu pertama ada. Entah memang resepnya berbeda atau ada salah satu bahan yang dikurangi yang jelas rasanya jadi beda.

Melihat sangat suksesnya penjualan wafer tersebut, mereka pun jadi banyak mengeluarkan produk baru berupa biskuit dengan taburan keju(Delis), Richeese ahh, Nabati sipp, Bretos, dll. Dan mereka membuka Richeese Factory, sebuah restoran cepat saji yang masih mengandalkan keju sebagai ciri khasnya. Sekarang, sepengetahuanku baru ada di Bandung yaitu di Parisj van Java Mall dan Istana Plaza. Salah satu menunya adalah ayam goreng plus nasi dengan saus keju yang bisa dicocol, bakso keju, cheese cake, dll. (agak mirip kayak Mc. D sama KFC)

Paling menarik minatku adalah cheese cake. Aku penasaran ingin nyobain, apakah seenak produk mereka yang sudah ada, setara dengan cheese cake yang biasa dijual di toko kue atau biasa saja. Oia ada beberapa rasa yang bisa kamu pilih, ada Original, Tiramisu, Cookies dan blueberry. Cakenya ditaro dalam mini cup dan ada tutupnya juga.

Aku nyobain rasa original dan tiramisu. Dan…….. setelah aku coba rasanya..mmmm…agak mengecewakan. Kenapa?

Rasa cream cheesenya kurang terasa, malah cenderung manis padahal aku makan yang original. Udah gitu di beberapa layernya ada sukade yang menambah rasa manis. Garnishnya juga adalah manisan ceri masih utuh dengan tangkai yang lagi-lagi menambah rasa manis. Dan yang tiramisu pun rasanya manis dan rasanya hampir serupa dengan yang original.

Richeese Cake Original

Richeese Cake Tiramisu

Ekespetasiku sih melebihi cheese cake di Breadtalk dan Cizz Cake. But…dengan harga Rp. 6.000 per cup. Yah..lumayanlah. Cocok banget buat penyuka manis.

Sebenernya recommended menu di Richeese Factory ini adalah spicy chiken wing yang punya lima level rasa pedas. Mulai dari level 1 sampai level 5. Temenku dan adikku bilang rasanya bener-bener pedessss!!!! Well…later, bakal aku coba ah!!!!!

Advertisements

Gathering at Gubug Makan Mang Engking Bandung

Tepat tanggal 5 April 2012, aku dan temen-temen kantor ngadain pertemuan di Gubug Makan Mang Engking yang beralamat di Jalan Kopo Bihbul No. 45 Bandung. Bangunannya bekas Kopo Square. Karena sepi peminat mungkin Kopo Square tutup. Sebagian dibeli sama yang punya Mang Engking, sebagian jadi kantor pelayanan SIM dan sebagian lagi disewakan untuk keperluan pertemuan atau resepsi pernikahan.

Gubug Makan Engking ini gak langsung terlihat dari pinggir jalan, agak masuk kedalam. Tapi nggak usah khawatir kalau mau datang kesini soalnya mereka pasang spanduk yang cukup besar di gerbang masuknya. Patokannnya Holland Bakery aja. Gerbang masuknya tepat diseberang Holland Bakery.

Begitu masuk kita disambut dengan rimbunnya pepohonan dan gerbang parkir otomatis. Terus aja masuk ke ujung barulah kelihatan saungnya yang besar-besar.

 

Ada 2 pilihan tempat duduk, lesehan sama kursi biasa. Karena kita lebih dari sepuluh orang maka kita milih tempat di kursi biasa aja. Soalnya lesehan hanya cukup untuk sekitar 10 orang saja. Lebih enak lesehan sih soalnya tempatnya diatas kolam gitu.

Talking about food and menu, disini menunya cukup beragam tapi yang mendominasi adalah seafood seperti udang, kepiting dan cumi.    Kalau kita kemarin milih yang paket parasmanan untuk 30 porsi dengan menu Udang Standar Bakar Saos Madu Rp. 72.000, Cumi Cumi Goreng Tepung Saos Asam Manis Rp 180.000, Sayuran Tumis Pakcoy Rp. 112.500, Ayam Goreng Kremes Rp. 240.000, Sayur Asem Rp. 75.000,  sambal, kerupuk sama minumnya Aqua gelas. Harga minumannya berkisar antara Rp. 6.500-Rp. 15.000. Buat yang seneng kelapa muda utuh disini juga tersedia dengan harga Rp. 10.000 per porsinya. Es Campur yang porsinya cukup besar harganya Rp. 15.000.

Rasa makanannya lumayan enak, tapi aku sendiri dengan harga segitu merasa agak kurang puas. Soalnya bumbu-bumbunya kurang berasa. Yang enak itu menurutku udang bakar saos madu sama sayur asemnya aja. Cumi goreng tepungnya kurang kerasa bumbunya. Kalau gak pake saos asam manisnya cuminya terasa hambar karena gak pake bumbu ditepungnya. Sayurannya terlalu lama dimasak jadi terlalu layu. Rasa ayamnya juga kurang terasa rempahnya. Kremesnya juga biasa aja, masih enakan di Ayam Goreng Suharti.

Sebenernya penasaran sama rasa kepitingnya. Pengen negbandingin antara buatan Mang Engking sama seafood di kaki lima biasa aku makan. Sayangnya kita nggak pesen itu. Mungkin lain kali kalau kesini lagi.

Well, biarpun begitu suasana disana memang enak karena banyak saung-saung besar dan kolam ikan. Nggak berasa kayak ditengah kota. Tempatnya cukup bersih, toiletnya juga bersih, hanya kalau habis cuci tangan diwastafel nggak ada lapnya aja,hehe…

Oiya..buat yang hobi mancing disini juga bisa. Cukup mengeluarkan uang Rp. 25.000/kg ikan.

 

Selop Fave Nan Tangguh

Sebagai cewek kayaknya hukumnya ‘wajib’ punya high heels. Biarpun kadang saat kita memakainya agak kurang nyaman, apalagi kalau dipakai dalam jangka waktu cukup lama. Namun ada juga high heels, entah sepatu, sandal atau sepatu sandal yang tetap nyaman dipakai walaupun memiliki hak yang cukup tinggi, sekitar 5-10 cm.

Kenyamanan saat memakai high heels disebabkan karena materialnya bagus dan berkualitas, dibuat dengan teknik tertentu sehingga pas dipakai dikaki. So..perasaan pegel atau lecet saat memakainya pun dapat diminimalisir. Hanya sayangnya kenyamanan ber-high heels kadang berpengaruh pada harga. Ada harga, ada mutu. High heels yang harganya diatas Rp. 100.000-150.000  biasanya cukup memberikan rasa nyaman tersebut. Semakin mahal bisa jadi semakin nyaman.

Aku sendiri membuktikan kalau harga memang memberikan mutu. Soalnya aku punya selop high heels ukuran 5 cm, merk Yongki Komaladi yang aku beli di salah satu pusat perbelanjaan yang mengadakan diskon cukup besar. Kalau nggak didiskon kayaknya aku gak bakalan beli,hehe… Karena harga produk buatan Yongki Komaladi untuk sandal bermodel sederhana aja bisa mencapai lebih dari Rp. 100.000! Harganya bisa lebih mahal untuk produk selop atau sepatu. Tapi memang nggak mengecewakan sih aku mengeluarkan uang lebih dari Rp. 150.000, itu setelah didiskon lho!

 

Selop Yongki berwarna coklat dengan aksen warna emas ini jadi selop fave-ku hingga sekarang biarpun kulit permukaan bagian depannya sudah sedikit mengelupas, warnanya sudah agak pudar dan heelsnya pun agak goyang, gak heran kayak gitu karena umurnya sudah mau menginjak 3 tahun!

Jangan kira bisa se awet itu karena jarang dipake, justru itu selop andalan yang selalu aku pakai diberbagai kesempatan. Mulai dari jalan-jalan ke Mall, ke kantor saat hari Jum’at & Sabtu sampai kondangan! Biarpun aku punya dua selop lainnya tapi selop inilah yang sering aku pakai. Selain dipakai untuk berbagai acara, selop ini juga tahan diberbagai cuaca, hehe.. Gak terhitung berapa kali selop ini terkena air saat aku kehujanan pulang ngantor. Dan paling parah sih saat demo buruh yang terjadi di sekitar daerah tempatku bekerja yang menyebabkan aku harus pulang dengan berjalan kaki sekitar 2 kilometer karena jalanan macet total! Mending kalau cuacanya cerah. Saat aku harus jalan kaki cuacanya hujan rintik-rintik, jalanan becek banget karena sebelumnya hujannya besar.

Biarpun sedkit lecet dan pegal memakainya saat harus berjalan dijalanan becek tapi sesampai dirumah selopku masih dalam keadaan utuh! Hehe… haknya sama sekali gak copot, talinya juga enggak putus, pokoknya gak ada yang rusak sama sekali. Padahal aku beberapakali sempet kepeleset.

Sampai sekarang selop ini masih ada dan hari ini, tanggal 6 April 2012 aku pakai buat ngantor 😉

Gimana sama kalian, apa kalian punya selop atau sepatu favorit andalan kalian?