Spageti Instan La Pasta

Iklan produk La Pasta ini sering banget wara-wiri di televisi tiap hari, alhasil akupun termakan iklannya dengan membeli La Pasta rasa Cheese Bolognese. Sebelumnya aku juga pernah beli pasta instan keluaran la fonte yang makaroni dan rasanya kurang enak. Pas beli La Pasta aku berharap rasanya enak.

Dengan harga sekitar Rp. 3.000 aku agak ragu sih rasanya enak namun rasa penasaran mengalahkan keraguanku. Jadi dibelilah.

Spagetinya agak pendek dari ukuran spageti yg biasa. Di dalemnya ada 3 bungkus, bungkus ke 1 berisi pasta spageti, bungkus ke 2 berisi bumbunya, bungkus ke 3 adalah bawang goreng kering, semacam kriuk kalo di mie goreng sedap. Menurutku agak aneh soalnya sejak kapan spageti pake bawang goreng?hihi..

Cara memasaknya sama seperti kita memasak mie goreng instan.

Setelah matang tampilannya seperti ini…

Image

Rasanya seperti makan mie aja, gak kaya spageti,hehehe… Rasa kejunya juga kurang memuaskan. Aku lebih milih spageti dan bumbunya keluaran La fonte aja biarpun agak mahal,hehehe. Daripada beli yang instan nan murah tapi rasanya kurang enak 😀

Advertisements

Bagel Sunda sama Bagel Eropa

Beberapa waktu yang lalu, ibuku pulang dari sebuah acara pengajian rutin ibu-ibu di komplek rumah. Kebiasaan di lingkunganku,mungkin dilingkungan kalian juga, biasanya si empu yang ngadain pengajian memberikan kue-kue ataupun nasi kotak untuk dibawa pulang.

Nah, kebetulan waktu itu kita dapet nasi kotak beserta lauk pauknya namun bernuansa Jepang, semacam Hokben tapi ini bukan dari Hokben soalnya gak ada logo hokben di styrofoamnya. Isinya ada coleslaw (serutan wortel sama kubis trus dikasih mayonaise), nasi, saos sambal dan tiga buah gorengan yaitu egg chiken roll sama shrimp roll kalau ga salah. Ketika dimakan rasa gorengannya udah keras, ibuku bilang ngabagel (artinya mengeras dalam bahasa Sunda).

Tiba-tiba dari kejadian tersebut aku jadi teringat nama roti khas orang-orang Eropa, Bagel, yang konon katanya rasanya juga keras, dan memang itulah ciri khasnya. Hmmm…apakah ada hubungannya antara Sunda sama Eropa? Atau mungkin ada orang Sunda yang pernah makan Bagel yang teksturnya keras sehingga pas makan makanan yang mulai mengeras mereka juga menyebutnya bagel? 😀