Serunya Ber-angkot Ria Saat SMA

Beberapa waktu yang lalu pulang dari pulang kantor sekitar jam setengah enam, biasanya jam lima kurang sedikit atau pas teng! jam lima aku udah pulang. Karena harus nunggu bos datang jadi aku pulang agak telat.

Seperti biasa saat pulang aku melewati pelataran parkir, satpam, tukang batagor dan mie ayam, nyampe dipinggir jalan raya, jalan sedikit ke arah kiri baru deh nyetop angkot warna hijau. Sekitar sepuluh menit, sampailah aku di tempat dimana aku harus naik angkot kedua yaitu yang berwarna biru. Begitu naik, diangkot hanya ada satu orang ibu-ibu. Beberapa menit kemudian naiklah dua orang anak cewek masih SMA. Keduanya berkerudung, didengar dari obrolannya sih mereka merupakan sahabat. Salah satu dari mereka bercerita kalau dia dan teman-temannya yang lain sedang naik angkot pasti milih duduk di paling ujung, deket jendela. Selain bisa bebas ngobrol, dia dan teman-temannya juga bebas ngeliat pengendara mobil atau motor yang ada dibelakang angkot yang mereka tumpangi. malahan mereka suka mencandai mereka dengan pura-pura menawarkan makanan atau minuman yang sedang mereka makan saat itu.

Hmmmmm…ngedenger cerita itu aku jadi ingat saat masa SMA dulu! Kebiasaan aku dan temen-teman sekolah dulu juga persis sama kayak yang diceritain cewek itu. Milih tempat paling pojok supaya bebas ngobrol dan ngebecandain pengendara yang tepat dibelakang angkot yang kita tumpangi. Bedanya kita bukan pura-pura nawarin makanan tapi ngedadah-dadahin cowok! Hahahaha…norak abis!

Begini caranya! Aku dan teman-temanku menyuruh temen yang duduknya tepat sebelah jendela ujung dari mobil angkot buat pura-pura mengelap kaca angkot yang berujung pada men-dadahi.hihi…  Mulanya gak ada target khusus, kita istilahnya nothing to lose aja… Setelah beberapa saat kita lihat reaksi mereka. Kalau ada salah satu ‘korban’ yang masuk perangkap kita tandanya dia akan memasang mimik heran, celingak-celinguk (buat memastikan apakah kita memang mendadahi mereka) terus senyum atau ketawa, hehehe… Pas dapet korban aku dan temen-temenku pasti ketawa-ketawa…

Paling asyik ‘ritual’ ini dijalankan saat hujan atau sehabis hujan soalnya kacanya kan basah dan berembun. Juga saat terjadi kemacetan… Dijamin bakal dapet banyak korban!!!

Cerita diatas merupakan salah satu cerita serunya naik angkot. Masih banyak cerita seru ketika aku naik angkot, kapan-kapan aku cerita lagi. Gimana sama kalian? Apa cerita seru kalian???

 

*foto-foto diatas diambil dari google

“Always put yourself in other people’s shoes. If you feel that it hurts you, it probably hurts the other people, too”

Pernah denger quote tersebut?
Mungkin diantara kalian ada yang pernah dengar atau tahu. Kalau yang belum tahu, nah kalian sekarang tahu karena membaca posting ini.

Kalau diartikan ke Bahasa Indonesia secara bebas artinya ” selalu letakkan diri kita di sepatu orang lain. Kalau kita ngerasa kesakitan, mungkin orang lain juga akan merasa hal yang sama”.

Kata ‘sepatu’ disini bukan arti sepatu secara harfiah atau sebenarnya tapi sebagai perumpamaan. Dan bisa digantikan dengan ‘keadaan atau situasi”.

Aku bikin posting ini karena belakangan ini kalau naik angkot saya merasa di posisi ‘hurts” .  Kalau bingung apa kaitan hurts sama naik angkot, begini nih ceritanya…

Naik angkot sepulang kerja merupakan rutinitas sehari-hariku. Aku harus naik angkot dua kali untuk mencapai rumahku. Jarak kantor dari rumah kurang lebih sekitar 5 kilometer.

Setiap naik angkot selalu saja banyak orang yang tidak mau bergeser. Mereka banyaknya cuek aja  saat aku atau orang lain masuk angkot. Kalau sopir udah teriak-teriak buat geser, baru deh pada mau bergeser. Aku yakin buat para angkoters hal ini merupakan hal yang biasa. Namun pernahkah sesekali terpikir oleh orang-orang yang gak mau geser itu, berpikir atau meletakkan posisi dia sebagai orang yang baru aja masuk angkot dan gak ada satu orangpun yang mau bergeser supaya bisa duduk? Sementara biasanya sopir suka main injek gas aja, kadang gak peduli kita udah duduk atau belum. Gak jarang suka ada yg jatuh.

Aku pribadi jujur aja suka agak kesel dengan orang yang seperti itu. Kalau orang yang masih muda dan mendapat perlakukan seperti, yah masih bisa ditolerir tapi kalau ada anak kecil, orang tua atau yang membawa bayi bagaimana?

Apakah sudah tidak ada kepedulian sedikitpun pada orang lain? Kalau kita yang berada di posisi tersebut bagaimana? Aku yakin pasti kita akan merasa kesel!

Penumpang yang tak mau bergeser biasanya beralasan “saya dekat, kok!”. Haloooo dekatnya itu dimana? Perkataan jauh dan dekat itu, kan relatif.

Aku perhatikan beda sekali saat naik angkot di tahun 1990-an saat aku masih sekolah dulu. Orang-orangnya masih punya kepedulian yang cukup tinggi berbeda dengan sekarang.

Jujur aja, aku juga gak sempurna tapi menurutku gak ada salahnya kita punya sedikit kepedulian terhadap orang lain.

Angkot

Biasanya kalau berangkat kerja aku bareng papaku, kalau pulangnya kadang bareng adek kadang naik angkot. Seringnya sih naik angkot. Ritual naik angkot, menurutku bukan hanya sekedar salah satu cara atau media untuk sampai ditempat tujuan namun lebih luas dari itu.

Banyak hal yang bisa kita perhatikan dan dapatkan saat didalam angkot, apalagi angkot yang penuh penumpang dengan beragam latar belakang. Ada pelajar, orang tua, pekerja, mahasiswa bahkan orang stress atau orang gila! Berbagai macam orang bisa ada dalam angkot.

Menurut pengamatanku sekarang ini banyak sopir angkot yang ‘stress’ karena makin sepinya penumpang, jalanan rusak hingga kemacetan. Mereka seperti sangat berambisi untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya penumpang dengan mengesampingkan banyak hal penting, salah satu diantaranya keselamatan para penumpang. Beberapa sopir, mau masih muda ataupun bapak-bapak sering mengemudikan angkotnya dengan kecepatan tinggi agar cepat dapat penumpang atau mengejar rekan sesama sopir angkot agar penumpang menaikki angkotnya. Atau demi menghindari kemacetan mereka rela melawan arus, atau menghabiskan badan jalan supaya terbebas dari antrian kendaraan.

Seperti pengalamanku kemarin sore saat menaiki angkot jurusan Sadang Serang-Caringin, dia ngebut hampir sepanjang jalan karena ingin mengejar temannya dan juga dia marah karena ada penumpang yang ingin naik angkot jurusan Sadang Serang-Caringin  hanya tidak ingin menaiki angkot dia (milih-milih angkot). Dia nyetirnya kayak orang kesetanan. Saat itu didalam angkot hanya ada dua penumpang, aku sama cewek seumur aku juga. Si cewek udah ngomel tapi si sopir angkot tak bergeming!Kalau aku sendiri, diem aja sih walaupun dalam hati ngedumel.

Turun dari angkot Sadang Serang -Caringin aku masih harus naik satu kali angkot lagi, yaitu jurusan Cijerah-Sederhana. Ketika aku naik aku langsung memilih duduk di bangku untuk 7 orang. Di bangku lima orang sudah ditempati 3 orang. Dua orang posisinya agak diujung bangku duduknya sedangkan satu lagi, seorang kakek duduk dekat pintu masuk, jadi ditengah bangku mereka ada celah untuk satu penumpang. Beberapa saat kemudian ada penumpang yang naik, biarpun ada penumpang lagi, si kakek tidak mau sedikitpun bergeser, padahal dia juga turunnya masih lama.

Memang sih sekarang ini banyak orang yang tidak mau duduk diujung dekat jendela belakang, inginnya duduk dekat pintu biar gampang turun alasannya (aku juga kadang melakukan hal yang sama). Padahal kalau dipikir lagi, kita banyak merugikan orang lain jika kita tidak mau mengalah kepada penumpang yang baru naik. Orang jadi susah untuk masuk angkot, angkot akan terlihat penuh padahal diujungnya kosong yang membuat sopir suka jadi marah, kitapun akan jadi sasaran kemarahan orang lain karena perbuatan kita.  Tapi meskipun banyak kerugian yang tidak kita sadari, masih banyak saja yang berbuat seperti itu.